Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) bersama sembilan organisasi masyarakat (Baznas, Lazis DDII, Lazis Muhamdiyah, Lazis RZI, Aksi Cepat Tanggap, Yayasan Dompet Dhuafa, Laz Al Azhar, Lazis BMT, dan Lazis PKPU) mendapat kepercayaan menyalurkan zakat koorporasi oleh Bank Mega Syariah (BMS)
Kemarin, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII, Prof. Dr. Ir. KH. Abdullah Syam, menyerahkan secara simbolis zakat tersebut kepada Ketua DPD LDII Kota Bogor Radjab Tampubolon, dan Ketua DPD LDII Kab. Bogor H. Bambang Wahyudi di Masjid Nurul Iman, Budi Agung Kecamatan Tanah sareal.
DPP LDII dipercaya untuk menyalurkan zakat itu kepada mustahiq sebesar Rp. 350 juta dari dana zakat kooporasi BMS tersebut. Kemudian DPP LDII menyalurkan sebagian dana zakat itu secara simbolis kepada sejumlah mustahiq zakat di Bogor melalui Dewan Pimpinan Daerah LDII Kota dan Kabupaten Bogor.
Ketua Umum DPP LDII Prof. KH Abdullah Syam mengatakan zakat yang disalurkan melalui DPD LDII Kota Bogor masing-masing sebesar Rp.25 Juta, selanjutnya dana itu akan dibagikan kepada 500 keluarga dhuafa dengan besaran pembagian Rp. 100 ribu per keluarga.
Selain Bogor, DPP LDII juga menyarlurkan zakat di beberapa wilayah lainnya seperti Depok, Bekasi, DKI Jakarta dan Tangerang. Ia juga menghimbau agar dana tersebut disalurkan dengan benar dan dapat di pertanggungjawabkan.
“Harus ada laporannya ke DPP LDII tentang siapa saja yang menerima. LDII harus mampu membuktikan dirinya sebagai ormas keagamaan yang menjunjung tinggi sifat jujur amanah rukun kompak dan mampu bekerjasama yang baik melalui penyaluran zakat koorperasi”, ujarnya.
Ia berharap BMS akan terus memberikan kepercayaan kepada LDII untuk menyalurkan dana zakat koorporasinya dan jumlah dana yang disalurkan dapat terus berkembang hingga memberikan manfaat nyata kepada keluarga dhuafa yang menerima bantuan.
Sementara Ketua DPD LDII Kota Bogor Radjab Tambulon berjanji akan menjalankan amanah tersebut dengan baik. Kami akan data dan akan kami langsung berikan dengan cara door to door, ‘ ujarnya.
Sholeh Iskandar-Bogor Metropolis 17 September 2006/ 17 Ramadhan 1429 H. hal . 10
Ramadan adalah syahru tarbiyah atau bulan pembinaan. Bulan khusus untuk menempa pribadi-pribadi muslim agar menjadi insan yang selalu merindukan pertemuan dengan-Nya. Tak pelak, berbagai persiapan pun dilakukan menyambut kedatangan Ramadan yang tinggal menghitung hari.
Hal ini seperti dilakukan seorang ibu rumah tangga asal Jebres, Solo, Tari 42. Perempuan berjilbab yang setiap hari bekerja sebagai penjual makanan ini mengungkapkan seperti Ramadan-Ramadan sebelumnya ia telah bertekad memaksimalkan ibadah selama Ramadan nanti.
”Seperti Ramadan tahun sebelumnya, selain puasa dan Salat Tarawih, saya juga punya target khusus terkait pelaksanaan ibadah lainnya. Misalnya tilawah Alquran. Selama sebulan saya menargetkan diri saya minimal bisa khatam satu kali,” jelasnya saat ditemui Espos di kediamannya belum lama ini. Guna menyiasati waktu membaca Alquran yang berkurang ketika dirinya sedang haid, Tari mengatakan, ketika sedang haid ia hanya ikut mendengarkan orang lain membaca Alquran di mesjid. ”Jadi ketika haid, bukan berarti aktivitas ibadah terhenti. Tapi saya usahakan terganti dengan aktivitas lainnya. Selain mendengarkan orang lain membaca Alquran, saya juga ikut menjaga dan membimbing anak-anak yang ada di mesjid selama pelaksanaan Salat Tarawih. Dengan niatan ibadah saya berharap hal itu akan menambah amalan saya selama Ramadan,” ujarnya.
Kegiatan-kegiatan lain di bulan Ramadan, diakui Tari, juga diperkirakan akan mewarnai hari-harinya selama Ramadan. ”Kebetulan saya anggota Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Selama Ramadan nanti, pasti banyak kegiatan yang saya ikuti,” ujarnya.
Karena selama Ramadan ia juga mencoba menjemput rezeki yang dijatahkan Allah SWT kepada keluarganya, Tari mengaku, waktu istirahatnya di malam hari berkurang drastis. ”Tapi alhamdulillah pada Ramadan sebelumnya, badan tetap sehat. Tapi biasanya kondisi badan drop setelah Lebaran. Jadi saya tetap bersyukur,” katanya.
Sementara itu, Direktur Yayasan Solo Peduli (YSP), Supomo mengatakan, seharusnya seorang muslim termotivasi untuk banyak beramal karena Allah SWT menjanjikan banyaknya pahala. ”Dalam sebuah hadis disebutkan, pahala amalan sunah akan dihargai sebagaimana pahala amalan wajib dan pahala amalan wajib akan dihargai berlipat ganda,” jelasnya.
Para sahabat berlomba
Pada masa dahulu, terangnya, para sahabat, tabiin serta ulama salaf berlomba-lomba memperbanyak tilawah, hafalan Alquran dan mentadaburi Alquran. Diriwayatkan dari Hasan Al Basri bahwa ia melewati suatu kaum yang tengah tertawa, lalu ia berkata, ”Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadan sebagai arena perlombaan melakukan ketaatan bagi makhluk-Nya, kemudian ada orang-orang yang berlomba hingga menang dan ada pula orang-orang yang kalah lalu kecewa. Tetapi yang sangat mengherankan ialah pemain yang tertawa-tawa di saat orang-orang berpacu meraih kemenangan,” (Al Hadis).
Ramadan, katanya, merupakan saat yang tepat untuk melakukan perbaikan diri agar selalu dalam kebaikan. Jika selama 11 bulan seorang muslim sudah melakukan banyak hal, waktu satu bulan Ramadan ibarat saat untuk men-service diri. Terutama dari sisi rukhiyah, jiwa dan hati. ”Motor saja kalau tidak pernah di–service, tidak nyaman dikendarai. Demikian halnya manusia, jika selama satu tahun penuh tak ada upaya untuk men–service diri, juga bisa mengakibatkan kerusakan,” terangnya.
Dalam kesempatan itu Supomo juga mengingatkan perihal zakat mal yang selama ini sering dilupakan banyak orang. Sebagian muslim menyangka, zakat yang wajib ditunaikan hanyalah zakat fitrah. Padahal seorang muslim juga wajib membayar zakat mal/zakat profesi. Jika zakat mal tidak dibayarkan, berarti ada hak orang miskin yang belum diberikan. ”Penyaluran zakat itu sendiri, bisa melalui lembaga amil zakat atau disalurkan langsung kepada orang yang berhak menerima. Yakni mereka yang tidak menjadi tanggungan seperti anak, isteri dan orangtua,” urainya. - Eni Widiastuti (http://www.solopos.net)
Dalam pencarian sumber riset di indonesia timur untuk sebuah kantor berita luar negeri , saya mulai pada suatu hari Jumat di Kota Makasar, karena saya saat itu [2002] baru mendarati makasar atas penerbangan dari Jakarta dan jam menunjukkan pukul 11.45, saya pun memanggil becak minta diantar ke mesjid terdekat. rupanya sang pengayuh becak juga sedang menuju masjid, “wah mas saya mau jumatan” katanya menolak saya sebagai penumpang, “tapi saya juga mau jumatan, saya sdg mencari mesjid terdekat, kalau begitu kita ke masjid saja bersama-sama”. Tak kuasa menolak, saya pun diangkut abang becak asal pasuruan yang beristrikan bugis itu.
Di perjalanan, sambil mengayuh si abang becak memberitahu saya sesuatu, “saya sholat di masjid tempat pengajian saya mas, jadi agak jauh.” setelah saya bilang bahwa saya ikut saja, saya kemali bertanya saat melintasi sebuah mesjid besar di persimpangan menuju jalan raya cerekang. “Kenapa tidak di sini saja pak, sholat jumatnya?” si Abang becak menjawab, “yang disini khotbahnya pakai bahasa Indonesia, mas. di tempat kami khotbah jadi satu sama sholat, jadi pakai bahasa arab dan tidak boleh seperti ceramah biasa.”
Benar saja, mesjidnya kira-kira 5 menit dari mesjid yang tadi sempat kami lintasi. Kira-kira berukuran 10 x 25 meter persegi, dua lantai, nampak tanpa ada kubah khas masyarakat hindu dan sikh di India, disekelilingnya berderet rumah-rumah petak berlantai dua yang merupakan tempat tinggal mubaligh dan takmir mesjid, serta dua rumah singgah untuk tamu dan sebuah dapur terbuka.
Lagi, abang becak benar, khutbah jumatnya pakai bahasa arab, untung saya sempat ber’inkubasi’ di pesantren, jadi dengan isi khutbah cukup mengerti. luar biasa, pesan perdamaian dari Alqur’an dan hadits2 nabi dipaparkan secara gamblang, sayangnya, yang tahu hanya mereka yang mengaji di masjlis taklim itu atau ornag-orang yang belajar agama Islam dengan baik. berbeda, karena biasanya saya lihat khatib dan imam adalah orang berbeda, ini benar-benar seperti di jazirah arab, khatib sekaligus imam.
Usai sholat jumat saya diperkenalkan oleh abang becak ke bapak kiyai yang menjadi khatib dan imam tadi, umurnya sekitar 32 tahun namun kharismatik dengan tsurban dan jenggot tercukur rapi. “Pak kiyai, mas ini dari Malaysia sedang bertugas disini, baru datang, tadi ikut becak saya.” dan dengan penuh keramahan saya disambut dengan baik, lalu dipanggillah seorang remaja ashabul masjid [penunggu mesjid] yang kemudian saya tahu masih kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri, UNM. Pada remaja ini saya dititipkan untuk diantar ke rumah singgah yang dinamai Rumah Sabilillah. Selama tiga hari tiga malam, hidup saya dalam jaminan di rumah sabilillah, bahkan diserahi kunci motor untuk dipakai melancarkan pekerjaan hanya dengan pesan, “hati-hati, semoga barokah.”
Petangnya ketika kembali dari hunting, habis magrib ada kesibukan kecil, tikar dan karpet digelar penuh, lantas meja-meja kecil untuk membaca al qur’an di bariskan, selembar sitrah [kain kelambu] setinggi dada orang dewasa dipasang menyekat membagi dua ruangan masjid. ternyata ada pengajian rutin yang disebut pengajian kelompok.
Acara dalam pengajian tersebut secara berurutan adalah memmbaca alquran oleh seorang muballigh dan disimak oleh seluruh hadirin yang mana-masing-masing juga memegang alqur’an, kira-kira 10 menit. Dilanjutkan kemudian selama kira-kira 20 menit adalah sesi pemaknaan atau tafsir. begitu selesai langsung dilanjutkan dengan kajian hadits [kalau tidak salah saat itu haditsnya ibni Majah], kira-kira 30 menit dengan pengajar muballigh lain lagi, masih muda kira-kira umur 18 tahun tapi luar biasa, cemerlang.
Selesai hadits, adalah sesi nasihat, tidak hanya kiyai yang nasihat, tapi bisa siapa saja yag ditunjuk oleh kiyai [ini pembelajaran yg bagus untuk menjadi pembiacar publik]. “Deg!” rupanya si abang becak tadi yang kali ini dapat giliran memberikan tausyiah.
Si abang becak mulai berpidato setelah salam dan memberikan kata pengantar, “…kita sebagai warga negara Indonesia dinasihati untuk selalu tunduk dan patuh pada pemerintah yang sah berdasarkan pancasila dan UUD 1945….dst. yang saya lihat ada nuansa nasionalisme disini. kemudian disambung panjang lebar dengan berbagai nasihat perdamaian dan pembinaan kerukunan dengan dalil-dalil sangat pas. [saya bertanya-tanya, kalau tukang becaknya saja seperti ini bagaimana dengan kiyainya ya?]
Yang tak kalah menariknya buat saya, sepanjang pengajian ini saya melihat sebentar-sebentar ada yang melempar uang sodaqah ke depan dimana agak lapang, ada juga yang ketika berdiri pulang meninggalkan uang ditempat duduknya, dan nggak ada yang iseng ngantongin! padahal mulai dari pecahan 1000an sampai 50 ribuan ada lho. abang becak bilang, ini untuk mendanai kegiatan rutin berupa pengajian yang seminggu berlangsung 4 kali. jadi tidak ada iuran wajib yang memberatkan, tapi siapa saja ingin sodaqah silahkan.
Dan mesjid yang cukup megah untuk ukuran mesjid2 disekitar itu, ternyata juga dibiayai bersama-sama para jemaat pengajian. ‘kita tidak boleh mengemis di pinggir jalan mas. malah kalau disini tidak ada lapangan beramal solih, mereka pada mencari dimana sedang ada pembangunan masjid, ikut menyumbang,
atau membangun jalan kampung…ya pokoknya hidup itu untuk ibadah mas.’
Saya terngiang nasihat abang becak, “barang siapa membangun mesjid di dunia maka Tuhan membangunkan sebuah gedung megah di akhirat.”
Lantas pada hari keempat, dengan penuh kesan saya pun pamit melanjutkan ekspedisi ke papua. tak dinyana, pak kiyai masih juga tidak mau melepas saya, “bawa alamat dan nomer telepon ini, setelah sampai bandara ditelpon saja biar dijemput,” dan sebagaimana pesannya, nomer HP yang diberikan saya panggil dari bandara Sentani, sebuah salam menyapa dari seberang. “Oh, mas mahar ya, tadi saya dapat kabar dari makasar dan sekarang saya sudah dekat dengan bandara, mas tunggu saja disitu, lima menit lagi saya sampai.”
Muda, kira-kira berumur 30 tahun, seorang supervisor di perusahaan consumer good, asal medan. “jangan sungkan, anggap saja dikampung sediri, kita semua keluarga, kalau butuh kemana-mana saya antar atau kalau mau pakai kendaraan sebaiknya jangan sendiri, selain bensin disini langka dan mahal, tradisi disini berbeda, nabrak ayam saja belum cukup motornya buat nebus.”
Rupanya saya dibawa ke Bucend II, sebuah komplek cukup wah dengan masjid ditengah2nya membuat saya serasa di kampus IIU. masjidnya penuh dengan kitab-kitab di rak yang tertata rapi. dan saya baru tahu dari sebuah plang yang ada didepan komplek [yang di makasar tidak ada papan nama]. ternyata saya dijamu oleh warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia [LDII] yang selama ini dianggap sesat, tapi saya yang tidak dikenal pun dijamu seperti keluarga, katanya mereka wajib menjamu saya karena saya adalah ibnusabil [bukan maksudnya anak jalanan, tapi seorang yang dalam perjalanan].
Enam tahun berlalu, dan saya sekarang di Jakarta, ada khabar dari teman-teman di wilayah persekutuan, serawak dan terakhir sebuah SMS dari pudu, kalau pembelajaran agama islam di malaysia, banyak yang sudah memakai kurikulum LDII. padahal setahu saya, awal 2000an, sebuah masjid di distrik Banting [ kalau tidak salah dekat dengan tanah genting] dibakar oleh orang-orang Indonesia yang tak jarang merupakan pendatang haram, dan mereka terprovokasi oleh penerbitan buku ormas-ormas islam yang tidak suka dengan LDII.
Saya jadi berpikir, kenapa dalam sekian lama LDII dibakar dan serang masjidnya tapi kok tetap bertahan bahkan semakin berkembang ke seluruh dunia? Sdr. Syaiful yang sampai sekarang jadi kontak saya di Papua, mengatakan itulah kebenaran, kalau tidak ada gangguan justru diragukan apakah yang dijalankan sudah benar. terus kalau diserang kok membalas, jangan-jangan malah lebih buruk dari yang menyerang, “kita doakan saja semoga mendapat petunjuk agar selamat dunia dan akhirat,” lanjutnya, kalau ustad jalan ditengah gerombolan pemabuk kok tidak diganggu, jangan-jangan karena ustadnya juga sedang mabok…
Kadang, sikap yang dikembangkan ini menginspirasi saya…begitulah.
Oleh: Mahar_FGDSumber: http://www.opensubscriber.com/message/me
Biasanya, udara di Kota Medinah, Arab Saudi di malam hari mencapai hampir 40 derajat celsius dan di siang hari bisa mencapai 50 derajat celsius. Serasa berdiri disamping api yang membara dan kulit wajah seperti terbakar dan mengelupas.
Namun bulan Ramadan dengan segala pahala dan maghfiroh yang dijanjikan oleh Allah SWT menjadi motivasi dari jamaah yang berkunjung ke Medinah Al Munawwaroh (kota yang bersinar) sebagai kota kebanggaan Nabi Besar Muhammad SAW sehingga suhu ekstrim tadi tidak menjadi penghalang untuk beribadah.
Apalagi pada malam hari kita bisa masuk ke Masjid Nabawi yang sejuk seraya menikmati air zamzam. Selain itu, ibadah di Masjid Nabawi juga mendapat pahala 1.000 derajat dibanding ibadah di masjid lain, kecuali Masjidil Haram yang pahalanya seratus ribu kali.
Namun tidak sedikit jamaah yang setelah melaksanakan salat Isya berjamaah memilih “tawaf” di “hutan beton” yang mengelilingi Masjid Nabawi. Pasalnya, di sekitarnya ada toko, mal, kedai, sampai penjual emperan yang menawarkan berbagai barang. Mulai dari jam tangan berkelas sampai rumput fatimah. Ada juga aneka jajanan yang menggiurkan setelah berpuasa di siang hari, seperti kebab, roti kari, dan berbagai jenis kurma.
Apalagi jarak dari Masjid Nabawi dengan lokasi tawaf itu tidak begitu jauh, hanya kurang lebih 100 meter. Meskipun berdekatan, namun suhu udara begitu ekstrem. Tatkala kita berjalan diantaranya, udara panas yang langsung menyergap tubuh dan wajah bisa mencapai 40 derajat celcius,. Pada hari kedua, Subhanallah, cuaca di Kota Madinah sungguh di luar dugaan, yakni mendung dan sejuk. Hal ini membuat seluruh jamaah semakin bersemangat beraktivitas dan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah maupun ziarah ke tempat-tempat bersejarah.
Terdapat banyak keutamaan Kota Madinah, antara lain:
1. Salat di Masjid Nabawi lebih utama 1.000 kali dibandingkan ibadah di masjid-masjid lainnya di bumi ini, kecuali Masjidil Haram.
2. Salat di Raudha dalam Masjid Nabawi sama dengan berjalan-jalan dan salat di taman surga.
3. Berziarah ke makam Nabi Muhammad sama dengan mengunjungi rumah Nabi sewaktu beliau hidup.
4. Salat di Masjid Quba, yakni masjid yang pertama kali dibangun oleh Nabi Muhammd ketika hijrah ke Madinah, pahalanya sama dengan satu kali umrah.
Dua Kiblat
Selain itu kita juga dapat mengunjungi tempat-tempat bersejarah lainnya seperti Masjid Kiblatain atau masjid yang memiliki dua kiblat, yakni menghadap ke Mesjidil Aqsa dan satu lagi menghadap ke Baitullah. Di sinilah turun wahyu berupa Surat Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan Nabi Muhammad menghadap Masjidil Haram. Kita juga dapat mengunjungi masjid-masjid para sahabat Nabi di dekat lokasi perang khandak. Inilah perang yang sangat bersejarah dimana ketika akan diserang oleh orang kafir Nabi Muhammad dan para sahabat menggali parit sebagai benteng pertahanan sehingga musuh tidak dapat menyerang karena terhalang parit.
Lembaga Dakwah Islam Indonesia disingkat LDII adalah sebuah organisasi islam di Indonesia. Sebelumnya sejak tanggal 13 Januari 1972 organisasi ini bernama LEMKARI. Pada tahun 1990 saat berlangsungnya Musyawarah Besar LEMKARI ke IV di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, oleh Rudini, Menteri Dalam Negeri saat itu, organisasi ini diubah namanya menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) dengan alasan agar namanya tak tertukar dengan Lembaga Karatedo Indonesia yang juga memakai nama LEMKARI. LDII saat ini dipimpin oleh Ketua Umumnya Prof.Riset.Dr.Ir. KH. Abdullah Syam, MSc yang memiliki perwakilan di setiap provinsi dan 407 DPD Kota/Kabupaten, 4500 PC dan ribuan masjid yang tersebar di seluruh nusantara. Jumlah pengikut LDII menurut data statistik organisasi antara 25-29 juta jiwa di seluruh dunia. Pemerintah RI dan MUI juga mengakui bahwa warga LDII memiliki budiluhur yang baik dan menghormati hukum.
Metode Pengajaran LDII
Di dalam mengajarkan ilmu Alqu’ran dan Alhadits, LDII tidak menggunakan sistim kelas seperti pada umumnya. Metode penyampaian guru membacakan Al Quran,mengartikannya secara kata per kata dan menafsirkannya dengan dasar penafsiran dari hadits yang berkaitan dan penjelasan beberapa ahli tafsir, misalnya tafsir Ibn Katsir. Murid-murid mencatat arti kata-per kata di Al Qurannya dan juga penjelasan tafsirnya. Untuk AL Hadits cara yang sama diajarkan, dimana guru dan murid sama-sama memgang hadits yang sama dan melakukan kajian. Hadits yang dipelajari adalah utamanya hadits kutubussittah (Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Nasai, Timidzi, Ibn Majah) dan juga hadits lainnya seperti Malik al Muatho, dan musnad Ahmad., disamping itu mereka juga mempelajari himpunan hadit sesuai temanya, sepeti kitab sholat yang berisi tatacara sholat sesuai ajaran Nabi Muhammad yang tertulis dalam beberapa sumber hadits, kitab puasa (shoum), kitab manasik haji, dan lain-lain. Dengan mempelajari hadits secara langsung dari kitab aslinya berarti secara langsung mengetahui suatu hadits apakah shohih atau lemah, sehingga terhindar dari rusaknya ilmu dan amal mereka.
Metode pemaknaan perlafadz itulah yang membuat para anggota LDII banyak menguasai kata-kata arab yang sangat berguna dalam kehidupan beragama. Misalnya mereka dapat mengerti apabila sedang membaca Al Quran tanpa harus mempelajari ilmu bahasa arab atau ilmu alat (nawnu, shorof) karena ulama LDII beranggapan bahwa pencerdasan ilmu Al Quran bukan hanya milik ulama tetapi untuk semua orang, karena memang AL Quran diturunkan untuk seluruh umat manusia bukan hanya untuk ulama tertentu. Semoga Allah Ta’ala memberi petunjuk pada kita semua.
Aktivitas Pengajian LDII
LDII menyelenggarakan pengajian dengan rutinitas kegiatan yang cukup tinggi karena Al Qur’an dan Al Hadits itu merupakan bahan kajian yang cukup banyak dan luas. Di tingkat PAC umumnya pengajian diadakan 2-3 kali seminggu, sedangkan di tingkat PC diadakan pengajian seminggu sekali. Untuk memahamkan agama islam yang sesuai dengan qur’an dan hadist, LDII mempunyai program pembinaan cabe rawit (usia prasekolah sampai SD) yang terkoordinir diseluruh masjid LDII. Selain pengajian umum, juga ada pengajian khusus remaja dan pemuda, pengajian khusus Ibu-ibu, dan bahkan pengajian khusus Manula/Lanjut usia.Ada juga pengajian UNIK (usia nikah) Disamping itu ada pula pengajian secara umum kepada masyarakat yang ingin belajar Al-qur’an dan hadits. Pada musim liburan sering diadakan Kegiatan Pengkhataman Al-qur’an dan hadits selama beberapa hari yang biasa diikuti anak-anak warga LDII untuk mengisi waktu liburan mereka. Dalam pengajian ini pula diberi pemahaman kepada seluruh warga LDII tentang bagaimana pentingnya dan pahalanya orang yang mau belajar dan mengamalkan Al-qur’an dan hadits dalam keseharian mereka.
Setiap bulan Ramadhan, terutama pada 10 hari terakhir bulan ramadhan, seluruh masjid LDII selalu penuh sesak digunakan oleh masyarakat beribadah non-stop mulai jam setengah delapan malam (sehabis sholat Isya’) hingga sebelum subuh (sekitar pukul setengah empat pagi) untuk mencari Lailatul Qadar.
Sumber Pendanaan LDII
Didalam membiayai segala macam aktivitasnya menurut ketentuan ART organisasi pasal 35, LDII mendapatkan dana dari sumbangan sah dan tidak mengikat yang sebagian besar dikumpulkan secara sukarela dari warga LDII sendiri (swadana) tanpa paksaan apapun. Selain dari warganya, LDII juga menerima sumbangan dalam berbagai bentuk dari pemerintah RI, swasta maupun perorangan.
Kontroversi
Gerakan LDII merupakan lembaga yang berusaha membangun peradaban Islam berdasarkan tuntunan Al-quran dan Al-hadits tetapi menuai banyak kontroversi dan dianggap sesat oleh beberapa aliran Islam lainnya akibat kesalahpahaman yang sering terjadi akibat rendahnya pengetahuan masyarakat tentang aktivitas pengajian LDII [1], terutama dengan tuduhan mereka terhadap adanya doktrin-doktrin LDII yang diduga tidak sesuai dengan ajaran Islam seperti penghalalan harta kelompok lain di luar kelompok mereka untuk diambil (padahal tidak benar), konsep manquul pada pembelajarannya, pembayaran denda sebagian harta untuk menebus dosa, dan lain-lain. Pihak LDII sendiri membantah hal tersebut dan menuduhnya sebagai propaganda untuk menjatuhkan LDII. Hal tersebut dapat dilihat pada terbitnya buku berjudul “Islam Jama’ah : Di Balik Pengadilan Media Massa” (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/LDII)
